10 Februari, 2011

Surat buat sahabat


Sahabat. Inilah kau di mataku sekarang ini. Meski mungkin kau belum sepenuhnya bisa menerima pendirianku ini. Telah menahun banyak hal yang kita lewati bersama. Dalam tekanan batin masing-masing,dalam pergumulan dengan perasaan masing-masing. Tapi maaf aku telah menyerah ketika kedua kalinya kau mengecewakanku. Dan ini akhir dari perasaan (cinta) ku padamu. Aku tak menyalahkanmu atas semuanya. Aku anggap ini bagian hidup yang harus aku lewati, dan kau tetap bagian dari hidupku sampai saat ini.
Aku hanya ingin menjelaskan semua ini lewat kata-kata pasti untukmu. Agar aku atau kau atau kita tidak saling menyakiti, atau menyakiti masing-masing yang ada di samping kita.
Kau tahu, kau memang cinta pertamaku, dan aku pikir juga akan jadi yang terakhir (pemikiran anak smp jaman dahulu kala), tapi ternyata tidak. Keberadaanmu dihatiku tergerus waktu. Aku sangat menyesal ketika aku harus memutuskanmu lewat surat. Dan yang lebih aku sesalkan kau mengiyakannya begitu saja, tanpa bertanya apa, bagaimana, atau mengapa. Dan kau tidak menahanku. Itu pertama kalinya aku benar-benar kecewa padamu.
Di saat yang kedua, saat kau kembali datang dalam hidupku, membawa harapan yang sama. Tetapi kau menghilang begitu saja, tanpa kabar, dan yang aku tahu kau telah memiliki yang lain. Pada saat inilah aku memutuskan pergi dari semua perasaan tentangmu. Dan benar saja, kini semua hilang, tak ada lagi yang tersisa untukmu selain kata sahabat, teman dari kecil, teman tumbuh dewasa, dan teman yang pernah mengukir kisah bersama.
Aku harap aku tidak pernah bermain di mimpimu lagi. Itu yang kau bilang. Aku harap waktu akan menggerus ketidakpastian dalam dirimu. Aku harap kau menghargai siapa yang ada di sampingmu.

Nb: aku menulismu di sini, sesuai harapanmu.
Tuyul..