17 Februari, 2010

aku dan ketidakwarasanku

aku merindumu
meski keinginan terbesarku adalah melupakanmu,
aku tak ingin hidup tanpamu,
meski selama ini aku memang hidup tanpamu,

rasa macam apa ini?
terus saja memberi meski aku tahu ka tak butuhkan ada ku,
rasa gila apa ini?
meski aku sedang dan akan terus terluka olehmu

andai saja menghapusmu semudahku mencintaimu
aku tak akan semenggila ini

tapi sudahlah
aku sudah berdamai dengan takdir
aku biarkan kau dengan ketidakwarasanmu
begitu juga aku
kembali dalam dunia ketidakwarasanku

sayap-sayap yang berkhianat

perlahan,
satu demi satu sayap hidupku berguguran,
melepaskan diri dan meregangkan kekuatanku untuk bertahan,,
aku kira sayap ini akan membawaku sampai pada pelangi,,
ternyata dia menjatuhkanku di tengah samudera luas,
kini aku tenggelam di dasarnya,

bak katak mencari nafas di atas air,
aku mencoba berenang naik,
berharap udara di luar sana menyelamatkan hidupku,
bila berani,
aku menyalahkan Tuhan yang memberiku sayap,
tetapi juga membiarkannya hilang dan menghancurkanku,
meski ku selalu ingat perempuan tua yang pernah membawaku selama sembilan bulan dalam perutnya berkata
"Tuhan tak hanya ingin kau bersyukur atas pemberian, tetapi juga atas kehilangan"

namun,logika ku tetap tak bisa berdamai dengan hati,
aku benci bila aku tak bisa bahagia sepenuhnya,
aku lelah terus kehilangan sayap,
sedang sayap itu datang dan menguatkanku tanpa ku minta,
ia pergi, begitu aku bergantung pada sayap itu,
mereka mengkhianatiku serta pergi dengan senyum palsu,

maaf semua,,
tak ada yang bisa diterima dari semua ini..