07 Mei, 2009

semua tentang . . . . . . .

Sesaat duniaku beserta isinya menghormati kedatangannya
kali ini kurasakan iblis bersamanya
angin dingin yang menyertai kedatangannya dengan halus dan hampir tidak kentara menyapu pori2ku, menegakkan bulu kudukku. Dan menyadarkan aku akan kehadirannya.
Dia berjalan nyaman dengan intonasi yang tak berubah, samar ku lihat sang iblis tersenyum licik disampingnya, seolah berkata 'kau takkan pernah bisa berdiri disampingnya seperti aku sekarang ini, terimalah nak!'
rasanya semua itu sungguh menyesakkan. Bahkan perlahan aku menyimpan pandanganku untuknya, kubiarkan hati ini marah tak menamatkan langkahnya hingga ia seolah masuk ke dalam tembok besar yang menghalangku, sekali lagi. Itu memang terulang setiap hari.
Oh, aku lupa membicarakan sang malaikat, sibuk dengan sang iblis dan pesonanya.
Sang malaikat tersenyum. Yah biar sepahit apapun penghinaan iblis ia pasti tersenyum, ia>malaikat, menguatkanku mendorongku berteriak dalam hujan sore ini, seolah mendesak keluar semua rasa kesal, kecewa, dan penat dari tubuh ini, semakin lama hujan semakin deras dan semakin membantu sang malaikat berbaik hati kepadaku. Hujan juga telah melunturkan jengkelku pada sang iblis tadi. Dan akhirnya aku biarkan perasaan ini terurai bersama aliran air. Biarkan dia bermuara kemanapun ia suka. Kecuali kekehidupanku.

Waktu tak pernah mau tau
dengan seenak hatinya ia terus berjalan
tak menghiraukan aku, biar kata aku bahagia, sedih, senang, kecewa ataupun merana
waktu adalah sisi egois dalam hidup ini
tak peduli banjir, gempa atau tsunami ia tetap berdetak tanpa henti
untuk momen ini saja
ku harap waktu terhenti sejenak
saat ia berjalan di depan mataku
aku ingin seluruhnya terhenti
layaknya jantungku yang berhenti memompa darah
saat itu aku hanya ingin melihatmu lebih dekat
lebih lama
dalam diam yang waktu persembahkan untukku
tapi sang waktu tidak suka berkompromi
sekalipun aku menangis menjerit dan berguling
waktu akan membiarkan dia lewat di hadapanku begitu saja
waktu takkan menghentikan langkahnya
bahkan waktu tak biarkan aku menatapnya lebih lama.
Kepada sang waktu
janganlah murka padaku
aku hanya ingin engkau tau
waktu ku terbatas untuk melihatnya
hanya sekejap dan hanya detik yang ada di sanaTaukah kau
hari ini kaulah pendosa terbesar atas hidupku
kau mengganggu pikiran ini hingga aku hampir mati
sampai hanya untuk terlelap saja aku tak bisa
kau,
siksaan terberat yang aku temui
dirimu,
buah simalakama hidupku
aku benci keadaan ini
aku sengaja menceburkan diri ke dalam jebakan hidup yang salah
dan aku sesali tindakan bodoh itu
sebodoh aku yang tidak bisa tidur malam ini
hanya karena dirimu
dirimu yang telah merusak tatanan pikiranku hingga kembali berantakan
padahal sudah susah payah ku tata kembali
dasar,
lelaki dan lelaki
lelaki yang mengganggu hidupku.
Seperti yang baru saja ku tulis di statusku. "Memaksamu untuk memikirkanku seakan sama seperti memaksaku untuk tidak memikirkanmu". Ku pikir kembali apa yang baru saja kupikirkan serasa semua ini tidak lebih dari suatu kenaifan dari seorang aku yang ingin mencapai obsesi yang hanya bisa terutarakan pada teman sejawat saja. Obsesi yang hanya berani di impikan tetapi tak berani merealisasikannya sebagai suatu kenyataan. Aku terlalu terpaku kepada kemungkinan2 yang ku buat sendiri. Semua kemungkinan itu membawaku ke dalam suatu fobia yang tak berdasar. Hanya muncul atas sebab dugaan2 kemungkinan yang nyatanya masih mengambang yang kuciptakan sendiri dalam imajinasiku. Hanya berasas praduga tanpa mencoba suatu langkah yang 'mungkin akan membawa sesuatu yang tak terduga. Masalah utamanya adalah piramida tingkat keberanianku masih level basement. Susah mencoba merangkak naik menjadi suatu keberanian yang membawa perubahan. Karena adaptasi dengan perubahan mungkin sedikit menakutkan untukku. Dari semua yang ku ungkapkan intinya adalah aku takut akan roda hidup yang semestinya, mau tak mau harus ku jalani
*terlalu pengecut untuk menggapai obsesi.

Tidak ada komentar: