23 Oktober, 2010

selamat pagi


Selamat pagi
Pagi dalam diam
Pagi dalam kesendirian

Selamat pagi
Aku akan mulai bercerita,
Aku mulai mendunia

Selamat pagi
Sebelum mentari beranjak naik,
aku akan bersiap untuk berlari..

20 Oktober, 2010

hari ini (senin), 18 oktober 2010


Hari ini
Hanya hari ini saja
Langkahku akan terasa amat sangat berat
Bebanku baru saja aku lepas
Tetapi tidak dengan rasaku

Sepertinya jadi sama saja
Easy come; easy go

apa aku menyesal tentangmu?


Apa aku menyesal tentangmu?
Aku rasa tidak
Hanya saja yang aku sesalkan
Aku jatuh pada perasaan
Aku kalah denganmu di sisi ini

Yah sudahlah
Sepenuhnya salahku
Mengandalkanmu
Menuhankanmu
Dan terakhir lebih dari sekedar menyukaimu

18 Oktober, 2010

hei kau. lelaki sok kalem

bolehkah aku menyimpanmu di hatiku

cukup di hatiku saja

terima kasih

Sekuel Biru dan senja bag. 4


Tak ada yang bisa di harap dari biru yang memudar menjadi kelabu
Tepatnya pandanganku yang memudar untuknya
Sebab kesimpulanku
Biru tak membutuhkanku

Maaf aku tidak bisa membencimu


Paradoks

Itulah istilah yang tepat untukmu ( dari sisi aku )
Apa yang aku katakan adalah kebalikan dari apa yang aku rasakan
Maaf aku tak berani jujur
Tapi untuk statement tentang benci padamu

Kali ini aku jujur
Aku tidak bisa membencimu

Sekuel langit biru dan senja bag 3


Senja kembali bermain dengan probabilitas
Berusaha sok menguasai keadaan
Senja kembali bermain dengan jiwanya sendiri
( betapa bodohnya? )
Senja berusaha mengukir jiwa di hati langit biru ( lagi2 )
Namun justru senja merasa hanya menjadi camilan di saat sepi
( umpatan ter-kasar harusnya dilontarkan untuk hal ini )

Yah
Keadaan memanfaatkan senja
Atau sebaliknya? Entahlah
Senja merasa tidak ada yang bermakna
Bahkan palsu
Kamuflase
Dan yang terjadi hanya kata
Anggap saja itu tidak pernah ada

Sekali lagi senja kalah
KALAH

Sekuel Langit biru dan senja; bag. 2


Tiba-tiba langit biru bertanya pada senja; apa aku pernah melukaimu?
Senja menjawab; tidak. Meski dalam hati senja bingung antara sakit atau sesak saat di sampingnya
Langit biru diam. Tersisa titik panjang setelah ini.

Langit biru kembali bertanya pada senja;
Bolehkah aku memiliki senja lain?
Senja menjawab; terserah ( meski dalam hati ia berkata jangan )
Langit biru kembali bertanya; benarkah?, sebab senja ini ada di sekitarmu?
Senja sejenak terdiam, mengumpulkan hati, menahan sesak yang sudah sesak, menahan lara yang sudah lara
Ia menjawab; terserah itu pilihanmu
Langit biru tersenyum
Dan kembali larut dengan obrolan tentang kehidupannya,

Sedang senja
Senja terdiam tersenyum mengikuti arus perkataan langit biru,
Tertawa ( palsu )
Dan berharap ini hanya mimpi

Senja tidak bisa memiliki langit biru
Sebab senja telah dimiliki langit biru lain
Tapi senja ingin langit biru
Senja ingin langit biru
Hanya itu saja