Tiba-tiba langit biru bertanya pada senja; apa aku pernah melukaimu?
Senja menjawab; tidak. Meski dalam hati senja bingung antara sakit atau sesak saat di sampingnya
Langit biru diam. Tersisa titik panjang setelah ini.
Langit biru kembali bertanya pada senja;
Bolehkah aku memiliki senja lain?
Senja menjawab; terserah ( meski dalam hati ia berkata jangan )
Langit biru kembali bertanya; benarkah?, sebab senja ini ada di sekitarmu?
Senja sejenak terdiam, mengumpulkan hati, menahan sesak yang sudah sesak, menahan lara yang sudah lara
Ia menjawab; terserah itu pilihanmu
Langit biru tersenyum
Dan kembali larut dengan obrolan tentang kehidupannya,
Sedang senja
Senja terdiam tersenyum mengikuti arus perkataan langit biru,
Tertawa ( palsu )
Dan berharap ini hanya mimpi
Senja tidak bisa memiliki langit biru
Sebab senja telah dimiliki langit biru lain
Tapi senja ingin langit biru
Senja ingin langit biru
Hanya itu saja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar